Jasmerah
Just another WordPress.com weblog

Belajar Dari Sejarah Kota Medan

(Suprayitno)

 

Dalam Raker Fraksi Partai Keadilan Sejahtera 15 September 2009,  sejarah kota Medan dibahas untuk dimasukkan sebagai mata pelajaran tambahan di sekolah. Bagi kalangan sejarawan ini merupakan berita unik dan menarik, sebab belum pernah kedengaran ada partai politik yang membahas isu tersebut. Ini pertanda bahwa partai politik sudah mau memikirkan pendidikan moral masyarakat dan tidak semata-mata mengurusi masalah politik dan ekonomi saja. PKS secara tidak langsung telah mengusung program bahwa kalau mau menjadi bangsa yang maju, beradab dan cerdas belajarlah kepada sejarah.

 

Banyak aspek yang mesti ditekankan dalam proses pembelajaran sejarah kota Medan. Penentuan tema-tema apa yang diajarkan kepada murid sangat tergantung kepada tujuan pendidikan sejarah itu sendiri. Artinya kita mau jadikan apa para siswa sekolah dengan mata pelajaran sejarah kota Medan. Karena dalam sejarah kota Medan ada banyak peristiwa yang memuat sifat-sifat/perilaku kewirausahaan, eklusifisme, heroisme, kesederhanaan, kebersamaan, bahkan hedonisme, dan sebagainya.  Tulisan ini akan mendiskusikan bagaimana sebaiknya sejarah kota Medan diajarkan kepada para siswa sekolah.

Tujuan Mempelajari Sejarah Kota Medan

Kota Medan memiliki sejarah yang panjang. Medan sebagai kota sudah ada sejak abad ke 16 Masehi. Tentu saja banyak peristiwa yang terjadi dalam rentang masa tersebut. Dalam sejarah ada keberhasilan dan ada kegagalan. Dalam proses pembelajaran sejarah sebaiknya kita berikan semuanya, dengan catatan agar kita dapat terhindar dari kegagalan yang serupa.

Isu-isu apakah yang harus diajarkan kepada para siswa dari pengalaman sejarah kota Medan?. Jawaban pertanyaan ini bergantung kepada tujuannnya. Ikrimah Hamidy, Ketua Fraksi PKS DPRD Medan, menyatakan “pelajaran sejarah kota Medan itu penting untuk mendidik agar para siswa mengetahui karakter dan sejarah kotanya guna menimbulkan kecintaan terhadap daerahnya”. Tujuan ini akan dapat dicapai tergantung kepada kualitas guru dan bahan ajar sejarah yang tersedia. Dalam konteks ini kita mendiskusikan bahan ajar sebagai sumber bagi guru untuk memberikan pemahaman kepada murid tentang sejarah kota Medan yang akan menimbulkan sifat cinta kepada sejarah kota Medan dan lebih dari itu adalah bertujuan memunculkan perilaku atau tindakan si murid sebagai wujud memahami dan mencintai sejarah kotanya sendiri.

Memahami Karakter Sejarah Kota Medan

Untuk memenuhi tujuan ini, pilihan peristiwa dalam sejarah kota Medan dapat dicluster sebagaimana ditulis oleh Budi Agustono. Tetapi perlu dibuat secara lebih detail, tepat sasaran dan proporsional. Sebagaimana kita ketahui, kota Medan mempunyai karakter sebagai kota Industri. Maka peristiwa yang berkaitan dengan proses pembangunan kota Medan sejak masa pra-Kolonial, masa Kolonial menjadi tekanan utama.

 

Bahan ajar mesti memuat berbagai macam hasil bumi yang dikeluarkan dari wilyah ini (Sumatera Timur) sejak masa Kerajaan Aru atau sebelumnya hingga mencapai klimaknya pada masa kolonial, pertengahan abad ke 19 dengan dibukanya perkebunan tembakau. Jadi siwa paham benar mengapa daerahnya menjadi kota industri. Sebagai catatan saja, bahwa semasa Kerajaan Aru (sekitar abad ke-13-16) daerah ini dikenal sebagai penghasil mutiara, padi, daging, ikan, buah-buahan, arak, kapur barus, emas, rotan, madu, lilin, benzoin dll (Cortesao, 1944: 146). Hasil bumi ini telah menarik para saudagar dari berbagai bangsa di dunia untuk berdagang ke wilayah Sumatera Timur.

 

Karakter sebagai kota industri tentu memunculkan kaum enterpreneur  yang pengalamannya bisa dijadikan pelajaran bagi para siswa. Dalam konteks ini ada  J. Nienhuys dan J.T. Cremer dua pengusaha yang sukses mendirikan perusahaan Deli Maatchappaj. Karena itu sejarah Deli Maatschappij, Deli Spoorweg Maatschappij, Javasche Bank, Firma Van Nie en Co, Deli- Proefstation, Hotel de Boer, Hotel Medan, Gedung Kota Praja dan peranan Sultan Deli   menjadi topik pembelajaran yang penting bagi para siswa.

 

Medan sebagai kota atau istana raja yang dahulunya dikenali dengan Meidan atau Madina sudah wujud sejak abad ke-16 dan terus berkembang menjadi kota industri perkebunan yang modern sejak awal abad ke-20. Medan sebagai kota perkebunan dijiwai oleh semangat kerja keras, kemajuan dan keberanian. Semangat inilah yang meresapi setiap orang yang datang ke kota Medan.

 

Medan memang dibangun oleh para pemodal besar, tetapi peranan kaum buruh tidak boleh diketepikan. Karena itu, peranan mereka perlu menjadi bahan pelajaran bagi para siswa. Kaum buruh juga berperan dalam pembangunan kota Medan. Secara tidak langsung dana pembangunan kota Medan disumbang oleh kaum buruh, melalui pajak judi/pasar malam disetiap akhir bulan di perkebunan-perkebunan ( Jan Breman, 1997).

 

Medan juga berkarakter sebagai kota revolusi atau perjuangan dan  budaya yang melahirkan para pejuang dan pemikir budaya. Dari Medan banyak muncul tokoh pergerakan, budayawan dan wartawan handal. Sebut saja misalnya Hamka dan H. Mohd. Said. Mohd. Said dikenal tidak saja sebagai wartawan, tapi sekaligus penulis dan politikus yang pemikiran dan aktivitas politiknya turut menentukan proses pembentukan Negara Kesatuan R.I. di Sumatera Utara (Suprayitno, 2001). Karya beliau  Kolie Kontrak dan  Aceh Sepanjang Abad menjadi rujukan penting  di perguruan tinggi.

 

Beberapa dari tokoh itu telah diabadikan menjadi nama-nama jalan utama di kota Medan. Namun saya yakin bahwa kebanyakan siswa tidak dapat mengenali siapa itu H.M. Joni, Mr. Mohd. Hasan, Sugondo Kartoprodjo, dr. Pirngadi, Selamat Ginting, F.L. Tobing, A.E.Kawilarang, Bedjo meskipun mereka mungkin setiap hari berjalan melalui jalan yang menggunakan nama-nama mereka. Sejarah dan perjuangan mereka mesti menjadi bahan pembelajaran sejarah bagi siswa.

 

Sebagai kota budaya, di Medan telah muncul berbagai macam kesenian yang mencerminkan keberagaman etnik di Indonesia misalnya Ronggeng dan Ketoprak Door. Medan dalam konteks ini telah berperan sebagai kota pembauran sosial budaya. Hamka menyatakan ketika Medan masih bernama Deli, bahwa  anak Deli adalah satu tunas yang mekar dari pembangunan bangsa Indonesia. Ayahnya seorang yang berasal dari Minangkabau, ibunya berasal dari daerah Kedu, bahasa Melayunya lancar, sehingga menjadi tumpuan pertama dari pembinaan Bahasa Indonesia Baru” (Reid, 1987: 109).

 

Membangun Kesadaran Sejarah

Dengan mengetahui karakter sejarah kota Medan dan riwayat perjuangan para tokoh tersebut diharapkan akan muncul kesadaran para siswa untuk mencintai dan memiliki kota Medan. Untuk mendapatkan pemahaman sejarah, murid harus paham benar akan sejarah kota Medan. Setelah paham barulah muncul rasa cinta yang pada gilirannya melahirkan perilaku untuk bertindak memelihara, menjaga kelangsungan sejarah kota yang kita cintai ini.

 

Kesadaran sejarah dapat dibina melalui keteladanan yang kita dapat dari pengalaman tokoh-tokoh sejarah di masa lampau. Namun keteladanan mereka tidak akan bermakna apabila para pemimpin bangsa ini sendiri tidak memberikan keteladan yang baik kepada masyarakatnya. Siswa sekolah akan lebih cepat memahami apa yang masih nyata nampak dalam kehidupan kontemporer mereka daripada keteladan yang mesti dipelajari dan direnungi melalui pelajaran sejarah. Oleh itu, membangun kesadasaran sejarah tokoh-tokoh  masyarakat, pengambil kebijakan publik memberi teladan yang baik ketika mereka menjadi pemimpin atau pejabat. Kalau para wakil rakyat yang duduk di DPRD Medan mulai membahas pentingnya membangun kesadasaran sejarah siswa melalui pengetahuan sejarah kota Medan, tentu suatu cara yang terpuji dan memang sepantasnya begitu. Dengan cara begini tujuan kita memberikan kesadaran sejarah pada para siswa akan bermakna positip. Kecintaan kepada sejarah kota Medan dengan sendirinya akan mudah diperoleh, karena contoh yang diberikan oleh masa lampau dan masa sekarang selaras dan harmoni.

 

Sejarah membutuhkan bukti bukan sekedar narasi. Siswa  tidak akan percaya seandainya seorang guru menyatakan bahwa pawai raksasa pada acara pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pernah  diadakan di Lapangan Merdeka Medan. Karena kondisi Lapangan Merdeka saat ini sama sekali tidak mencerminkan suasana masa lampau yang penuh heroik. Para siswa juga tidak akan percaya jika dikatakan bahwa di sebuah rumah dipersimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Amaliun pernah diadakan rapat para tokoh pergerakan membahas agenda perjuangan sesaat setelah Jepang menyerah kepada Sekutu. Kenapa? Karena disitu tidak ada lagi berdiri rumah tempat pertemuan itu berlangsung, tetapi yang ada hanyalah sebuah Mall Yuki Simpang Raya.

 

Jadi jangan heran jika guru suatu saat bisa ditertawai muridnya sendiri dan dianggap sebagai pembual. Kalau sudah begini, bukan domainnya guru lagi tapi urusan pengambil kebijakan publik, termasuk para wakil rakyat. Dengan munculnya kesadaran sejarah di kalangan pelajar sejak di bangku sekolah, diharapkan berdampak positif kepada perilakunya ketika ia kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa. Tidak menjadi pemimpin yang justru menghancurkan atau menghilangkan bukti-bukti kebesaran sejarah Kota Medan.

 

Iklan

Belum Ada Tanggapan to “”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: